Back   
KASIH KARUNIA YESUS MENGUBAH MANUSIA
(Kisah Rasul 9:19b-43)
Setiap manusia ingin mengalami perubahan dalam kehidupannya, tentu ke arah yang lebih baik, bahkan ada slogan mengatakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Namun, kenyataannya perubahan demi perubahan yang terjadi adalah perubahan yang hanya bersifat fisik, penampilan, gaya kehidupan di mana semuanya itu bersifat sementara dan fana. Kenyataannya, tidak terjadi perubahan dari dalam secara signifikan, yaitu perubahan kedewasaan secara rohani tidak terjadi.
Dari kitab Kisah Para Rasul 9:19b-43, kita akan mendapati peristiwa di mana dua tokoh dalam Alkitab yang mengalami perubahan secara signifikan dari dalam. Bahkan, bukan hanya perubahan diri yang terjadi tetapi mereka juga diubah oleh Tuhan menjadi alat-Nya yang luar biasa dan menjadi berkat bagi umat manusia sepanjang masa. Oleh karena kasih karunia Yesus, pelayanan mereka disertai dengan tanda tanda mukjizat, sekalipun itu bukan tujuan utamanya. Gereja Tuhan bertumbuh melalui pengajaran Firman, doa, kasih Allah dan kuasa Roh Kudus yang hidup terus dinyatakan melalui gereja-Nya.
Saulus, seorang yang bengis, penganiaya jemaat, fanatik dan legalistik terhadap agama, bisa diubah Tuhan menjadi alat pemberita Injil. Ia bahkan mengasihi bangsa-bangsa non Yahudi, sekalipun mengalami banyak tantangan, rintangan, ancaman, kelaparan, karam kapal, keluar masuk penjara. Namun, ia tidak pernah mundur sedikit pun, bahkan setia sampai garis akhir hihidupnya. Ia mati sebagai martir di kota Roma zaman Kaisar Nero dengan dipenggal kepalanya oleh karena Yesus yang ia layani dengan setia dan totalitas pengabdian. Hidupnya mengalami perubahan oleh kasih karunia Yesus Kristus.
Petrus adalah seorang nelayan sederhana, tanpa pendidikan yang tinggi , seorang yang temperamental, sering bertindak spontanitas tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Oleh kasih karuia Tuhan di ubahkan menjadi seorang penjala manusia, memberitakan Injil kepada orang orang Yahudi dengan kuasa disertai tanda-tanda mukjizat. Seorang yang sakit bernama Eneas di sembuhkan dan seorang yang mati bernama Tabita (Dorkas) dibangkitkan oleh doanya. Petrus seorang biasa diubahkan menjadi pribadi yang luar biasa oleh kasih karunia Yesus Kristus. Bahkan, kuasa kasih karunia Yesus pula yang menguatkannya sehingga ia rela mati martir dengan disalib terbalik oleh karena merasa tidak layak disalib seperti Yesus.
Dari narasi kedua tokoh tersebut di atas kita dapat mengambil makna teologisnya bahwa hanya kasih karunia Yesus Kristus yang mampu mengubah manusia. Kemampuan manusia tidak akan mampu mengubah manusia secara rohani dari dalam. Hanya oleh kuasa kasih karunia Yesus saja yang mampu mengubah manusia dari dalam. Kita harus meresponinya dengan iman.
Kristus menjadi sumber kuasa sehingga mereka diberi kuasa dalam perkataan dan pengajaran. Hal itu bukan dari hebatnya diri mereka tetapi dari Karya Roh Kudus yang menyatakannya melalui mereka.
Muzijat adalah alat menguatkan pemberitaan Injil.
Mukjizat bukanlah tujuan pemberitaan Injil tetapi mukzijat menyertai pemberitaan Injil. Mukjizat dipakai Tuhan sebagai salah satu alat untuk menguatkan pemberitaan Injil, yang membawa manusia datang kepada Allah. Mukjizat menyatakan kuasa dan kemulian Allah.
Kasih karunia Yesus mampu mengubah setiap orang seperti Saulus dan Petrus. Kuasa-Nya tetap bekerja melalui gereja-Nya. Pelayanan yang benar selalu ditandai dengan memuliakan nama Yesus di atas segalanya: denominasi gereja atau favoritisme hamba Tuhan. Bahkan, peristiwa mukjiizat itu sendiri bukanlah menjadi tujuan utamannya.
Mukjizat Tuhan yang terjadi harus sebagai bagian yang mendukung pemberitaan Injil, bukan untuk mengagungkan kehebatan dan kesakralan seorang manusia di hadapan-Nya. Mari kita pastikan hidup kita mau diubah oleh kasih karunia Tuhan agar kita tidak menyesal karena kehilangan momen yang bersifat kekal. (B.E)