preloader
  Back   

KENDALIKAN KEINGINAN KITA

(Amsal 23:1–8) 

Kita hidup dalam dunia yang terus berkata, “Ambillah lebih banyak, nikmati lebih banyak, miliki lebih banyak.” Keinginan manusia seakan tidak pernah selesai. Menariknya, ribuan tahun yang lalu Salomo sudah mengingatkan bahwa salah satu tanda kehidupan yang berhikmat adalah kemampuan mengendalikan keinginan.

Dalam Amsal 23:1–8, Salomo memberikan tiga gambaran kehidupan yang berbeda: duduk makan dengan seorang pembesar, keinginan untuk menjadi kaya, dan makan di rumah orang yang kikir. Sekilas ketiganya tidak berhubungan. Namun jika diperhatikan, semuanya berbicara tentang bagaimana hati manusia merespon apa yang menarik keinginannya.

Pertama, kendalikan selera kita (ay. 1–3). Ketika berada di meja seorang pembesar dengan makanan yang lezat, Salomo berkata, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” Gambaran ini sangat keras. Artinya, jangan sampai kenikmatan menghilangkan penguasaan diri. Tidak semua yang tersedia harus kita sikat habis.

Kedua, kendalikan ambisi kita (ay. 4–5). “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya.” Salomo tidak sedang memuji kemiskinan atau anti terhadap kekayaan. Ia sedang memperingatkan ambisi yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Mengapa? Karena kekayaan dapat “lenyap” dan “tiba-tiba... terbang.” Jangan menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak dapat kita pertahankan. Kata Yesus "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya..." (Matius 6:33) 

Ketiga, waspadai apa yang tampak baik (ay. 6–8). Salomo memperingatkan tentang makanan orang kikir. Secara lahiriah ia berkata, “Makanlah dan minumlah,” tetapi hatinya menghitung. Apa yang terlihat sebagai kemurahan hati ternyata dapat menyimpan maksud yang berbeda. Hikmat tidak hanya melihat pemberian, tetapi juga membaca hati di balik pemberian.

Ketiga nasihat ini membawa kita kepada satu kebenaran: masalah terbesar bukan selalu apa yang ada di luar kita, tetapi keinginan yang ada di dalam kita. Selera yang tidak dikendalikan menjadi kerakusan. Ambisi yang tidak dikendalikan menjadi keserakahan. Keinginan yang tidak dikendalikan membuat kita mudah ditipu oleh apa yang tampak menarik. 

Karena itu, orang berhikmat bukanlah orang yang tidak memiliki keinginan, tetapi orang yang tidak membiarkan keinginannya menjadi tuan atas hidupnya. Jangan biarkan apa yang kita inginkan mengendalikan siapa diri kita. Biarlah hikmat Tuhan yang mengendalikan keinginanmu. Biarlah Roh Kudus yang memimpin hidup kita. Amen, Tuhan Yesus memberkati dan menyertai setiap kita. (YAS)

Share