preloader
  Back   

MATA TUHAN MELIHAT

"Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat" (Amsal 5:21-23) 

Tekhnologi saat ini,  CCTV ada di mana-mana: di jalan, pertokoan, bahkan di rumah untuk keamanan. Tanpa kita sadari, ada CCTV Ilahi yang mengawasi kita 24 jam tanpa pernah offline. Itulah Mata Tuhan. Amsal 5 ditulis untuk menolak perzinahan dan menjaga kemurnian hidup. Alasan utamanya adalah: Mata Tuhan Melihat. Ia tahu sampai kedalaman hati. Ada tiga kebenaran dari ayat ini.

Pertama: *SEGALA LANGKAH TERBUKA DI HADAPAN TUHAN* (Ay. 21): _“Segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN”_

Kata 'mata TUHAN' (Ibr. _ene YAHWEH_) berarti semua jalan manusia berada di hadapan-Nya. Tidak ada yang tersembunyi. Kata 'diawasi-Nya' (Ibr. _mepales_ dari kata _palas_) berarti menimbang, mengukur, meratakan jalan. Allah bukan hanya melihat tindakan lahiriah, tetapi menimbang pikiran, keinginan, dan niat tersembunyi.

Yeremia 32:19 menegaskan: _mata-Mu terbuka terhadap segala tingkah langkah anak-anak manusia._ Ibrani 4:13 juga berkata tidak ada makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Semua telanjang di depan Dia yang kepada-Nya kita harus memberi pertanggungjawaban.

*Kedua : DOSA MENJADI JERAT BAGI PELAKUNYA (Ay. 22)*: 
_“Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri.”_

Dosa memiliki tiga sifat: Kenikmatan semu, manis tapi singkat. Kenikmatan tersebut akan mengikat perlahan dari kompromi kecil menjadi ikatan kuat, dan merampas damai serta kemerdekaan jiwa.

Kata "tertangkap" (Ibr. _yilkedunow_ dari _lakad_) berarti menjebak. Kata "tali" (dari _chebel_) berarti ikatan. Prinsipnya jelas: orang yang mengira sedang menikmati kebebasan, justru sedang ditangkap oleh kebiasaannya sendiri. Dosa yang dipelihara akhirnya memperbudak.

Ketiga : *KEHANCURAN AKIBAT MENOLAK DIDIKAN* (Ay. 23)*: _“Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.”_

Kata "didikan" (Ibr. _musar_) berarti koreksi dan ajaran seperti ayah kepada anak. Kata "tersesat" (Ibr. _yisgeh_ dari _shagah_) berarti menyimpang dan kehilangan arah.

Kehancuran terjadi bukan karena Tuhan kejam, tapi karena menolak koreksi.

Ada dua sikap hati:
*Sikap Keras Kepala:* menolak teguran, mengabaikan Firman, mengandalkan pikiran sendiri, akhirnya tersesat karena pilihan sendiri.

*Sikap Hati yang Lembut:* siap diajar dan dikoreksi, menghargai teguran kasih dengan kerendahan hati, sehingga langkahnya terarah dan memperoleh hikmat.

1 Petrus 1:14-16 mengingatkan kita untuk hidup sebagai anak-anak taat, kudus di seluruh hidup kita, sama seperti Dia yang kudus.

Mata TUHAN mengawasi langkah orang yang diberkati-Nya. Karena itu serahkan segala jalan hidup kita kepada TUHAN dan senantiasa berjalan dalam  penundukan diri pada Firman-Nya. Tuhan Yesus Memberkati. Keep On Fire. (LT)

Share