preloader
  Back   

MENJADI PEMUJI ALLAH

Mazmur 145

Ini adalah mazmur pujian Daud yang terakhir dan satu-satunya mazmur yang secara khusus diberi judul “pujian” (tehillah). Mazmur ini mengajarkan bahwa memuji Allah bukan hanya kegiatan di gereja, melainkan gaya hidup orang percaya. Di tengah dunia yang dipenuhi keluhan, ketakutan, dan kekhawatiran, Tuhan memanggil umat-Nya menjadi penyembah yang terus meninggikan nama-Nya.

Salah satu kata Ibrani yang penting dalam pasal ini adalah בָּרַךְ (barakh), yang berarti “memberkati, memuji, atau berlutut dalam penghormatan.” Daud berkata, “Aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya” (ay. 2). Pujian yang sejati lahir dari hati yang tunduk kepada Allah.

Bagaimana kita seharusnya memuji Allah?

Pertama,  Memuji Allah Adalah Sebuah Komitmen Seumur Hidup
(Mazmur 145:2-3)

"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya."

Daud tidak berkata bahwa ia akan memuji Tuhan hanya pada hari-hari baik. Ia berkata, “setiap hari.” Pujian adalah keputusan, bukan perasaan. Dalam keadaan senang maupun susah, orang percaya dipanggil untuk tetap memuliakan Allah.

Ayat 3 menegaskan bahwa kebesaran Tuhan “tidak terduga.” Kata Ibrani גָּדוֹל (gadol) berarti “besar, agung, luar biasa.” Allah terlalu besar untuk dipahami sepenuhnya, namun cukup dekat untuk disembah setiap hari.
Hari ini banyak orang memuji Tuhan hanya ketika doa dijawab. Mazmur ini mengajar kita untuk menjadikan pujian sebagai komitmen yang tetap, sebab Tuhan tidak berubah.

Kedua, Pujilah Kepribadian dan Karakter-Nya
(Mazmur 145:8-9)

"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya."

Daud memuji siapa Allah itu sebelum memuji apa yang Allah lakukan. Kata Ibrani חֶסֶד (hesed) berarti “kasih setia, kasih perjanjian, kasih yang tidak pernah meninggalkan.” 

Inilah kasih Allah yang tetap setia sekalipun manusia sering gagal.
Tuhan adalah pengasih, penyayang, sabar, dan penuh belas kasihan. Dunia berubah, manusia mengecewakan, tetapi karakter Allah tetap sama.
Ketika kita mengenal hati Tuhan, kita akan tetap memuji-Nya meskipun keadaan belum berubah.

 Penyembahan yang dewasa dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah.

Ketiga, Pujilah Perbuatan-Nya yang Besar dan Ajaib
(Mazmur 145:4-7)

"Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu."

Daud mengingat karya-karya Tuhan. Kata Ibrani נִפְלָאוֹת (nifla’ot) berarti “perbuatan-perbuatan ajaib” atau “mujizat-mujizat yang mengagumkan.”
Iman bertumbuh ketika kita mengingat apa yang telah Allah lakukan. Bangsa Israel menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya agar mereka tidak melupakan kesetiaan-Nya.

Setiap orang percaya memiliki kesaksian tentang pemeliharaan, pertolongan, dan anugerah Tuhan. Ketika kita menceritakan pekerjaan-Nya, iman orang lain dikuatkan dan nama Tuhan dimuliakan.

Terakhir, Pujilah Kesetiaan Tuhan dalam Setiap Musim Kehidupan
(Mazmur 145:14-18)

"TUHAN itu setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya."

Kata Ibrani נֶאֱמָן (ne’eman) berarti “setia, dapat dipercaya, teguh.” Tuhan menopang orang yang jatuh, membangkitkan yang tertunduk, dan dekat kepada mereka yang berseru kepada-Nya.
Di zaman yang penuh ketidakpastian, kesetiaan Allah menjadi alasan terbesar untuk memuji-Nya. Ia tidak meninggalkan umat-Nya. Tangan-Nya tetap terbuka untuk memelihara dan menolong.
Ketika kita melihat kesetiaan Tuhan setiap hari, hati kita akan dipenuhi ucapan syukur dan pujian.

Mazmur 145 mengajarkan bahwa menjadi pemuji Allah berarti menjadikan pujian sebagai komitmen hidup, mengenal karakter-Nya, mengingat perbuatan-Nya, dan mempercayai kesetiaan-Nya. 

Semakin kita mengenal Tuhan, semakin mudah hati kita berkata seperti Daud:
"Mulutku hendak mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya." (Mazmur 145:21). God bless you. (LKH)

Share