Back   
TIDAK SEMUA KESALAHPAHAMAN HARUS DILAWAN
(Kisah Para Rasul 21:15-26)
Setibanya di Yerusalem, Paulus disambut dengan sukacita oleh Yakobus dan para penatua. Namun sukacita itu segera diwarnai oleh sebuah persoalan. Beredar kabar bahwa Paulus mengajarkan orang-orang Yahudi untuk meninggalkan hukum Musa (ay. 21). Padahal, Paulus tidak pernah mengajarkan hal itu. Demi menjaga kesatuan jemaat dan agar Injil tidak terhalang oleh kesalahpahaman, Paulus bersedia mengikuti upacara pentahiran di Bait Allah (ay. 23-26). Menariknya, Lukas tidak mencatat bahwa Paulus sibuk membersihkan nama baiknya. Yang ia perjuangkan bukan reputasinya, melainkan kesaksian Injil.
Pertama, jangan mudah mempercayai apa yang kita dengar.
"...mereka telah mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi... supaya mereka jangan menyunat anak-anaknya..." (Kis. 21:21)
Konflik dalam perikop ini berawal dari kabar yang beredar, bukan dari fakta. Betapa sering hubungan rusak karena kita lebih cepat percaya pada cerita daripada mencari kebenaran. Firman Tuhan mengingatkan, "Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya" (Ams. 18:13). Orang percaya dipanggil untuk menguji setiap informasi dengan hati yang penuh kasih dan bijaksana.
Kedua, tidak semua tuduhan harus dibalas.
"...lakukanlah apa yang kami katakan ini..." (Kis. 21:23)
"Pada hari berikutnya Paulus membawa orang-orang itu... lalu masuk ke Bait Allah..." (Kis. 21:26)
Paulus sebenarnya dapat membela diri. Namun ia memilih merendahkan hati dan bekerja sama demi membangun damai. Ia lebih mengutamakan kesatuan jemaat daripada memenangkan argumen. Sikap ini sejalan dengan nasihat Petrus, "..janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati" (1Ptr. 3:9). Kedewasaan rohani terlihat ketika kita tahu kapan harus berbicara dan kapan harus tetap berbuat benar dalam diam.
Ketiga, jagalah nama Kristus lebih daripada nama diri sendiri.
"...mereka memuliakan Allah..." (Kis. 21:20)
Fokus Paulus bukanlah membela reputasinya, melainkan menjaga agar Injil tetap dipercaya. Ia rela disalahpahami jika hal itu tidak mengorbankan kebenaran Injil. Seperti yang pernah ia tuliskan, "Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya." (1Kor. 9:23). Dunia mengajarkan kita mempertahankan nama sendiri, tetapi murid Kristus dipanggil mengutamakan kemuliaan nama Tuhan.
Sahabat HBC, biarlah kisah ini menjadi perenungan bagi kita. Ketika disalahpahami, apakah kita lebih sibuk membela nama kita atau menjaga agar nama Kristus tetap dimuliakan melalui respon kita?
Mari kita memohon kepada Tuhan, supaya kita diberikan kerendahan hati seperti Paulus. Kita mohon Tuhan mengajar kita untuk tidak mudah bereaksi terhadap setiap tuduhan atau kesalahpahaman, tetapi tetap hidup dalam kebenaran, kasih, dan hikmat. Biarlah melalui hidup kita, nama Tuhan semakin dimuliakan. Tuhan Yesus Memberkati dan menyertai kita senantiasa, Amin. (YAS)